Sore itu aku dan temanku, Amin, mendatangi TPA di
Masjid Mustaqiem yang biasa relawan sebut TPA Petoran
karena bertempat di kampung Petoran. Sebenarnya waktu itu bukan jadwalku
mengajar bimbel apalagi mengisi TPA karena aku bukan relawan TPA LAZIS.
Kedatanganku juga bukan karena ada relawan yang memintaku menggantikannya
mengisi TPA karena tidak bisa hadir. Lantas apa? Teringat beberapa waktu
sebelumnya saat pulang mengajar bimbel di Masjid Al Ilyas, Amin menceritakan
adik-adik TPA nya yang nakal-nakal. Nakal memang hal yang biasa bagi anak-anak,
tetapi nakalnya adik-adik di TPA yang dibimbing Amin tidak seperti nakalnya
anak-anak pada umumnya. Perkataan kasar terhadap teman atau relawan sering
diucapkan, polah mereka yang tidak bisa
diam adalah pemandangan yang ditampilkan setiap kali TPA seperti melompat dari
jendela masjid ke jalan sebelah dengan ketinggian sekitar 2 meter, membohongi
relawan soal bacaan IQRO’ atau ayat Quran terakhir dengan menunjukan halaman
yang dulu pernah dibacanya agar terlihat lancar dan bisa segera bermain, pulang
ke rumah pada saat TPA belum selesai dan ada santriwati yang kembali lagi malah
sudah ganti baju dengan memakai hot pants,
bahkan ada santriwan yang baru duduk di kelas 3 SD yang berkata dengan
santainya pada Amin, “Mbak, aku pernah lihat videonya....( menyebut nama artis
yang terkena kasus video porno)”. MasyaAllah... . Amin menceritakan pengalamannya
dengan nada prihatin. Sungguh memang kondisi yang memprihatinkan apalagi dalam
sebuah TPA yang diisi anak-anak SD. Itulah yang membuatku penasaran dan ingin
melihat secara langsung kondisi di TPA tersebut. Suatu kondisi yang belum
pernah aku temui saat mengajar bimbel di masjid manapun.
Waktu kami datang, adik-adik sudah datang. Seperti kondisi
TPA/bimbel pada umumnya saat relawan belum datang, adik-adik ada yang berlarian
dan bercanda. Belum ada tanda-tanda sesuatu yang mencengangkan. Amin mengajak
adik-adik untuk berkumpul dan segera memulai TPA. TPA yang didominasi anak
laki-laki ini mulai menunjukkan sikap yang susah diatur. Berkali-kali Amin
mengajak adik-adik untuk berkumpul, tetapi hampir tidak ada respon dari mereka.
“Ayo adik-adik kumpul dulu ke sini!” , “Iya mbaaaak, bentar!” Selalu itu
jawabannya. Tampak tidak ada yang beranjak dari permainannya. Berlarian di
masjid, memanjat tiang penyangga masjid, atau memainkan sarungnya. Tidak ada
alasan yang penting untuk menghiraukan ajakan Amin.
Aku sengaja hanya untuk mengamati sehingga
kebanyakan aktivitas dikerjakan Amin. Satu per satu akhirnya adik-adik mau disimak
mengaji atau membaca IQRO’ oleh Amin. Jangan bayangkan adik-adik mau berkumpul
untuk mengantri disimak atau malah belajar sendiri terlebih dahulu sebelum
disimak. Kondisinya cukup kacau. Saat Amin menyimak, adik-adik yang lain tetap
saja melanjutkan permainannya. Mereka kurang menunjukkan rasa hormat pada dua
relawan datang pada hari itu.
Waktu pulang tiba, adik-adik diminta Amin untuk
berdoa. Dia memintaku untuk memimpin doa. “Ayo adik-adik, kita berdoa dulu
sebelum pulang.” Aku mengawalinya. Berdoa bersama tanda TPA telah selesai bukan
diwarnai dengan kekhusyu’an adik-adik, tetapi diwarnai dengan canda tawa
beberapa adik-adik. Ada yang saling senggol dan tertawa dan ada yang tidak
bersemangat berdoa. Aku merasa terganggu. Sudah beberapa kali aku melihat
tingkah mereka dan mengisyaratkan untuk menghentikannya, tetapi mereka nekat.
Setelah selesai dengan ucapan yang keras dan tegas
aku katakan, “Ulangi!” Adik-adik bengong dan ada yang berkata, “Lhoh kok
diulangi? kan sudah berdoa.” Aku benar-benar tidak suka ritual doa bersama
tanda membuka atau menutup suatu kegiatan hanya dijadikan kegiatan formalitas.
Doa yang dipanjatkan dilakukan hanya sebagai doa palsu tanpa makna. Dulu waktu
PPL aku juga menemui kondisi yang sama, padahal mereka malah siswa-siswa SMP.
Saat selesai dengan jelas dan tegas aku meminta semua siswa mengulangi doanya.
Adik-adik aku jelaskan dengan serius, “Adik-adik, ini tu masjid bukan tempat
bermain-main. Kalian berbicara dengan orang saja harus hormat apalagi dengan Allah.
Berdoa itu sama saja berbicara dengan Allah, jadi harus serius tidak boleh
sambil bercanda.” Ruangan masjid yang kecil itu membuat suaraku menjadi semakin
keras. Adik-adik diam dan masih bengong saat aku menjelaskan mengapa harus
diulangi, tetapi tetap saja saat aku selesai bicara ada yang menyangkal, “Tadi
saya sudah berdoa kok.” Respon seorang adik yang memang sudah berdoa dengan
baik. Aku tetap meminta semua mengulanginya. Akhirnya mereka mau mengulanginya
dengan bacaan yang serius dengan raut muka yang agak tegang. Biarlah, biar
mereka belajar tertib, disiplin, dan tidak menyepelekan doa. Lagipula cara
halus yang dipakai temanku selama proses sama sekali tidak mempan.
Saat perjalanan pulang, alangkah terkejutnya aku ketika
Amin mengatakan padaku bahwa tadi ada seorang santriwan yang mengatakan
padanya, “Mbak kok kowe nggowo konco elek
to? Mbok nggowo konco i sing ayu koyo....(menyebutkan salah satu nama tokoh
dalam sinetron remaja).” (mbak, kok kamu bawa teman yang jelek sih? bawa teman
tu yang cantik dong kayak...). Hem...aku tidak mempermasalahkan apa aku
dipandang cantik atau jelek yang aku permasalahkan adalah kalimat kedua
santriwan itu. Kalimat itu mengindikasikan bahwa anak SD itu sering menonton sebuah
sinetron remaja yang diputar di waktu Maghrib yang notabene berisi percintaan
remaja-remaja tanggung dan kehidupan yang hedonis. Sinetron telah membentuk
kepribadiannya menjadi anak yang dengan cepat menilai seseorang dari penampilan
luar. Satu lagi kalimat yang terucap pada seorang santriwan kepada Amin, “Mbak,
kok koncomu galak to?”
Dua pekan kemudian...
Aku mendatangi TPA Petoran lagi dan masih bersama
Amin. Seharusnya ada dua relawan tetap yang menemani Amin, yaitu Anarida dan
Eva. Tetapi sama seperti waktu pertama kali datang, mereka tidak bisa datang.
Kondisi TPA waktu kami datang tidak ada beda dengan waktu pertama kali aku
datang. Waktu itu aku meniatkan diriku untuk membantu Amin, bukan lagi untuk
mengamati. TPA yang seharusnya dimulai jam 4 sore jadi mundur karena adik-adik
susah sekali diatur. Setelah mau duduk bersama untuk berdoa selama lima menit,
adik-adik langsung berlarian, ada yang tiduran, ada yang bernyanyi dengan
volume keras dan nada yang tidak pas, ada yang bermain, ada juga yang malah
ijin jajan. Hanya ada dua santri yang mau duduk, yaitu santri yang sedang aku
simak dan Amin simak. Sebenarnya aku dan Amin sudah berkali-kali meminta
adik-adik untuk tenang. Aku pun pernah membentak mereka pada saat tidak serius
berdoa sampai ada yang melabeliku “galak”. Tapi itu tidak ada pengaruhya. Semua
mental di telinga mereka.
Cara tegas pernah kuberikan, cara halus pernah
diberikan Amin. Aku berpikir harus kugunakan cara lain. Di saat aku sedang
menyimak santriwan dan dia kurang tepat dalam membacanya, maka aku langsung
membenarkannya dengan cara halus sekaligus memberi contoh yang benar. Huruf
hijaiyah yang paling sering salah diucapkan adalah kho, huruf hijaiyah ke 7.
Dia selalu melafalkan dengan mahroj yang kurang jelas seperti huruf kha, huruf
hijaiyah ke 6. Seharusnya dibaca jelas hingga lidah belakang menyentuh
tenggorokan.
“Kho.” Kata santriwan itu mengeja sebuah IQRO’ .
“Bukan, bukan seperti itu, yang benar begini, kho.”
Aku membenarkan ucapannya dengan bahasa dan nada yang halus.
“Kho.” Ucapnya sekali lagi.
“Bukan, bukan. Masih kurang jelas. Begini lho, kho.”
Sekali lagi aku membenarkan.
“Kho.” Dia mencoba lagi.
“Aduh masih kurang jelas. Coba-coba kamu bisa
nggak?” aku mencoba mengikutsertakan seorang santriwan yang mendekati kami
karena mungkin penasaran.
“Kho.” Dia mau mencoba.
“Naaaaah....betul seperti itu.” Responku dengan nada
girang agar mereka semakin tertarik. “Coba kamu ulangi lagi!” Aku meminta
santriwan pertama untuk mencontoh temannya.
“Kho.”
“Yaaaaa......sedikiiiit lagi.” Aku mencoba
meyakinkannya bahwa dia sudah hampir benar.
“Kho.”
“Naaaaaaaaah......itu bisa. Yeeeeee.....” Aku beri
apresiasi padanya bahkan memberinya tepuk tangan kecil.
Tak kusangka santriwan-santriwati yang tadinya sibuk
dengan dirinya sendiri, ternyata sudah mengerumuniku. Mereka penasaran pada apa
yang kami lakukan dengan sebuah huruf hijaiyah bernama “kho”. Tak mau
melewatkan kesempatan ini, aku akhirnya meminta mereka untuk mengucapkan huruf
kho bergantian. Tidak semua benar, tetapi ketika menyebutkan secara benar aku
apresiasi mereka meski hanya dengan hal-hal sederhana, misalnya ucapan, “Ya,
benar.”, “Nah, begitu.” , “Ayo, kamu pasti bisa.” atau tepuk tangan kecil. Kalau pun
salah aku tidak memarahinya, tatapi membandingkannya dengan santriwan lain yang
bisa mengucapkannya dengan cara halus. “Ayo, coba lagi. Masak dia bisa, kamu
nggak bisa? Kamu pasti bisa.” Santriwan pun tidak melawan dan malah mencoba
lagi.
Tidak terasa ruang masjid mulai gelap, tanda senja
akan segera menyapa. Kami menutup hari itu dengan semangat adik-adik yang
tinggi untuk mempelajari ayat-ayat Allah, meski hanya dari satu huruf, KHO. Meski hari itu ditutup dengan semangat tinggi,
sebenarnya aku masih penasaran apa latar belakang yang membuat adik-adik
bertingkah nakal seperti
itu.
Beberapa bulan
kemudian…
Pergantian
semester siswa sekolah. Tanda bahwa LAZIS UNS membuka pendaftaran Adik Asuh
baru. Setelah itu dilanjutkan survey ke rumah calon adik asuh. Siang itu aku
sedang sibuk mengetik dengan laptopku di selasar Masjid NH. Terlihat dari pintu
masuk, Amin menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Assalamualaykum!” sapanya
“Waalaykumsalam!” jawabku sambil bersalaman dan membalas
senyumnya. “Habis dari mana?”
“Dari survey
adik asuh di Petoran.”
Seketika
jawabannya menarikku untuk bertanya lebih lanjut.
“Gimana?” aku
pikir kalimat tanya yang singkat ini bsa mewakili banyak jawaban.
“Waaah….ya gitu,
rumahnya kecil-kecil. Cuma dari situ sampai situ (dia menunjuk lantai
Masjid NH
yang dari ujung satu ke ujung lainnya hanya terpaut beberapa keramik ukuran
besar). Terus tadi
masak ada banyak botol miras di depan rumahnya.”
“Hah?” Mataku
terbelalak. “Punya siapa?”
“Ya…tetangga-tetangganya
sih. Rumahnya kecil-kecil dan sederhana banget kok, mbak. Ada yang rumahnya
kayak lorong aja berlantai tanah, ada yang rumah sewa temboknya dari anyaman bambu.
Antar ruangan gitu saling berdekatan. TV gitu deket sama kamar.”
Aku jadi tahu
ternyata adik-adik sangat terpengaruh dengan acara TV. Itu karena pada saat ibu
mereka lelah dengan pekerjaan rumah seharian, maka mereka mencari hiburan yang
ringan. Sayangnya hiburan ringan yang ditayangkan TV masih sangat jarang
apalagi kalau di atas jam Maghrib. Maka, tidak ada pilihan lain, selain
menonton sinetron yang rata-rata kurang mendidik. Adik-adik tentu sulit
berkonsentrasi saat belajar karena terdengar suara acara TV. Tanpa ada
pengawasan dari orang tua, mereka malah bisa sekalian nonton TV dan
meninggalkan waktu belajarnya.
Setelah itu aku
juga pernah mendapat cerita dari Eva dan Anarida soal kerasnya TPA Mustaqiem.
Cerita mereka membuatku berkesimpulan bahwa kondisi adik-adik di TPA Mustaqiem
yang bandel disebabkan oleh beberapa faktor. Kondisi ekonomi keluarga yang
membuat orang tua seharian pusing memikirkan apa yang akan dimakan hari itu
(rata-rata orang tua bekerja sebagai buruh kasar). Hal ini membuat orang tua
kurang memerdulikan perkembangan pendidikan anaknya, yang paling dekat adalah
membiarkan waktu belajar anaknya berlalu karena menonton sinetron.
Tontonan-tontonan yang kurang mendidik itu mempengaruhi kepribadian adik-adik,
apalagi mereka masih SD sehingga belum dapat menyaring informasi dengan baik.
Kondisi lingkungan rumah adalah faktor pembentuk kepribadian mereka saat keluar
rumah. Mereka telah terbiasa melihat orang menenggak miras sampai mabuk di
siang hari.
Melihat kondisi
latar belakang mereka yang tidak kondusif, membuatku melihat sisi lain dari
adik-adik yang bandel itu. Bagiku, mereka adalah korban dari ketidakpedulian
orang-orang dewasa di sekitarnya. Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka akan
meniru apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Teman-teman relawan yang
semangat ini terkadang lelah dengan usaha mereka untuk memperbaiki kondisi
adik-adik. Porsi waktu mereka untuk adik-adik tentu sangat sedikit dibanding
dengan keluarga, lingkungan rumah, dan sekolah. Pengaruh yang diberikan tentu
kalah kuat dengan ketiga elemen tersebut.
Bagiku, itu tak
mengapa. Setidaknya yang sedikit itu telah berusaha mewarnai hari adik-adik di
tengah banyaknya pengaruh buruk di sekitarnya. Bukankah nila yang setetes itu
bisa merusak susu sebelanga? Mau datang ke TPA dan duduk saat disimak sudah
merupakan hal luar biasa yang dilakukan adik-adik Petoran. Aku baru bertemu
mereka beberapa kali, tatapi bisa melihat wajah-wajah semangat mereka pada saat
mengajari “Kho” dulu dan aku optimis dengan pendekatan yang baik mereka pun
akan dapat diarahkan menjadi lebih baik. Aku salut dengan perjuangan
teman-teman relawan: Anarida, Eva, dan Amin yang dapat bertahan bertahun-tahun mewarnai
hari-hari mereka yang keras. Dari mereka aku belajar: jangan hanya menyalahkan
atau menilai buruk kondisi mereka, tetapi jadilah bagian dalam perbaikan meski
hanya sedikit.
“Ya Allah, mereka adalah anak-anak manis yang masih
panjang jalan hidupnya. Izinkan mereka untuk senantiasa melangkahkan kakinya
pada jalan-Mu yang lurus. Menggapai impian-impian besarnya dan meneruskan
perjuangan umat hingga bertemu dengan surga-Mu kelak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar