Friday, 15 June 2012

Etika Bisnis Snack Mahasiswa


Saya yakin bagi Anda yang pernah menjadi peserta atau panitia suatu kegiatan mahasiswa akan menemui snack sebagai suguhan ringan yang akan terasa kurang jika tidak ada. Bagi panitia, snack sudah seperti “produk wajib” yang harus diberikan kepada peserta selain sebagai penarik minat mahasiswa untuk mengahadiri acara yang digelar. Bagi peserta, tidak bisa dihindari snack kadang dijadikan tujuan utama untuk menghadiri suatu acara selain sertifikat. Apalagi kalau panitia mengratiskan acara yang digelar, peserta akan semakin dengan senang hati menghadiri acara walau kadang tak mengerti esensi acara tersebut.
Tidak hanya panitia dan peserta yang dibuat senang karena adanya snack, tetapi juga para pelaku bisnis snack. Di Solo, ada banyak toko snack terkenal yang biasa dipesan untuk suguhan suatu acara atau sekedar untuk konsumsi pribadi. Jenis snack dan harga yang ditawarkan bermacam-macam sehingga memudahkan konsumen memilih sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.
Tingginya permintaan snack untuk kegiatan mahasiswa ini ditambah jenis usaha yang cukup mudah apabila digeluti, telah memunculkan banyak pemain baru di bidang snack mahasiswa. Biasanya usaha mereka masih dalam lingkup kecil (usaha rumah tangga) dan modal yang mereka gunakan juga tidak besar sehingga kegiatan promosi dan produksi sangat terbatas. Harga yang mereka tawarkan jauh lebih murah daripada snack-snack yang dijual di toko-toko snack terkenal karena jelas, segmen yang mereka bidik adalah aktivis mahasiswa yang dananya terbatas (low end). Seperti sebuah simbiosis mutualisme, menjamurnya pemain baru ini, disambut hangat oleh para aktivis mahasiswa terutama yang akan melaksanakan suatu acara.
Sejauh pengamatan saya, banyak diantara pemain baru ini yang tidak memproduksi snack sendiri. Mereka biasanya membeli snack yang sudah jadi kemudian dikemas dan diberi label merek mereka sehingga bisa disebut mereka hanya bertindak sebagai distributor. Ini mereka lakukan karena dana untuk memproduksi terbatas dan merupakan cara cepat untuk memulai usaha. Daripada harus belajar memasak dan membuat snack sendiri tentu membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang lebih besar. Tidak ada yang salah dengan kegiatan tersebut, yang menjadi masalah adalah ketika para pemain baru ini kurang mencermati jenis snack yang ditawarkan kepada konsumen (mahasiswa).
Seminggu yang lalu saya menghadiri sebuah acara di Tawang Mangu. Waktu saya membuka tas, saya menemukan sebuah kue basah yang saya dapatkan karena menghadiri sebuah acara empat hari sebelumnya di kampus. Entah mengapa ada rasa penasan dalam diri saya sehingga saya membuka bungkus plastik yang masih membungkus rapih kue basah tersebut. Bukan saya makan, tetapi saya cium dan pegang permukaannya. Saya benar-benar terkejut karena snack tersebut tercium tidak basi dan permukaannya tidak menunjukkan perubahan tekstur (seperti masih baru). Warna yang ditunjukkan juga tidak berubah sama sekali, padahal normalnya kue basah akan rusak dalam waktu sehari setelah pembuatan. Saya yakin ada suatu yang tidak benar dalam pembuatan kue tersebut. Saya masih bisa memaklumi kalau pembungkusnya kedap udara, tetapi kalau pembungkusnya hanya plastik biasa yang bisa dimasuki bakteri dan jamur kapan saja, saya menjadi curiga. Ini malah membuat saya semakin penasaran, sehingga kue itu tidak saya buang malah saya bawa pulang. Sampai saat ini, kondisi fisik kue basah itu masih dalam keadaan sama dengan yang diberikan panitia 11 hari yang lalu, tetapi saya tidak mau mengorbankan diri saya untuk mencicipinya sehingga saya tidak tahu rasanya. Percobaan sederhana ini bisa diambil kesimpulan bahwa kue basah tersebut mengandung pengawet buatan yang membahayakan.
Parahnya, saya sering menemukan kue basah tersebut disuguhkan dalam acara kemahasiswaan atau snack jenis lain yang berciri-ciri sama. Dari sini, etika bisnis mulai dipertanyakan. Saya memahami posisi panitia acara yang minim anggaran dan pemain bisnis yang berusaha memenuhinya, tetapi itu bukan menjadi alasan bagi pemain bisnis untuk tidak menawarkan snack sehat dengan harga terjangkau. Kalau pemain bisnis ini bertindak sebagai distributor, sebenarnya masih ada banyak snack sehat dan terjangkau yang dijual di pasaran. Kalau bertindak sebagai produsen, biasanya alasan melakukan produksi tidak sehat itu karena bahan bakunya lebih murah dan bisa tahan lama sehingga keuntungan lebih banyak. Sebenarnya hal tersebut bisa disiasati dengan mengecilkan ukuran snack berbahan sehat dengan harga tetap sehingga keuntungan masih bisa diraih. Bisa juga ukuran tetap, tetapi harga dinaikkan. Produsen tidak perlu takut rugi, karena bisa meng-edukasi konsumen untuk memilih snack sehat. Tidak ada alasan apa pun untuk menjual snack berbahan berbahaya. Intinya, ada banyak cara untuk menjaga kualitas meski dengan harga murah.
Panitia acara seharusnya juga lebih berhati-hati menyuguhkan snack untuk peserta. Anggaran dana yang terbatas seringkali membuat panitia mengesampingkan kualitas snack yang disuguhkan (yang penting dapat snack banyak dan murah), peserta biasanya juga bertindak cuek dengan hal ini. Padahal, sama seperti para pemain bisnis, itu bukan menjadi alasan bagi panitia untuk tidak memberikan snack sehat bagi peserta karena sebenarnya masih ada banyak snack sehat di pasaran. Asalkan selektif maka snack sehat dengan harga terjangkau bisa didapat.
Saya teringat pesan dosen saya beberapa hari lalu saat saya melayat istrinya karena sakit kanker getah bening. Beliau berpesan untuk menjaga pola makan dan berusaha menghindari makanan yang berbahan kimiawi karena ada indikasi penyebab penyakit istrinya adalah makanan makanan yang mengandung kimiawi. Penyakit itu timbul karena sebuah proses. Bisa cepat atau lambat. Apa yang kita lakukan saat ini, bisa jadi berdampak pada puluhan tahun ke depan. Mungkin adanya pelaku bisnis saat ini yang kurang memperhatikan masalah kesehatan snack yang ditawarkan karena tidak ada komplain dari konsumen (mahasiswa) yang mendadak sakit setelah memakan snack tersebut, misalnya. Tetapi siapa tahu bahan kimiawi yang terkandung dalam snack tersebut mengendap dan menimbulkan penyakit puluhan tahun ke depan?
Saya berpesan kepada para pemain bisnis snack mahasiswa untuk lebih menjaga etika bisnis. Keuntungan bukan terletak pada besarnya uang yang didapat dalam waktu singkat, tetapi terletak pada keberkahan bisnis yang dijalankan melalui proses perjuangan yang tidak mudah. Bagi mahasiswa yang  menjadi panitia acara, selektiflah dalam memilih snack karena ini berarti Anda turut andil pada kesehatan peserta Anda.
Ayo berbisnis secara sehat!





Thursday, 22 March 2012

ARE YOU LOOKING FOR A SCHOLARSHIP….? INTERESTED IN TURKEY……? THEN HAVE A LOOK, MAYBE IT IS YOU…..?

Ini dia jawabannya:

BEASISWA PEMERINTAH TURKI BERUPA

1.beasiswa S1

2.beasiswa S2

3.beasiswa S3.

4.Beasiswa penelitian

5.Beasiswa summer languange

beasiswa ini dibuka setiap tahunnya oleh pemerintah turki

  • UNIVESITAS DI TURKI

Diturki saat ini ada 156 universitas yang terdiri dari 103 universitas pemerintah dan 53 universitas swasta.Semua universitas yang ada diturki tergabung dalam program-program pertukaran pelajaran diseluruh Eropa yang dinamakan Erasmus. Diantara universitas ini ada beberapa universitas yang termasuk universitas unggulan diturki.Antara lain adalah:

1) METU (Middle East Teknik University-http://www.metu.edu.tr/

2) BOGAZICI UNIVERSITY- http://www.boun.edu.tr

3) FATIH UNIVERSITY - www.fatih.edu.tr

4) BILKENT UNIVERSITY - www.bilkent.edu.tr

5) ANKARA UNIVERSITY - www.ankara.edu.tr

6) ISTANBUL UNIVERSITY - www.istanbul.edu.tr

TERMS AND REQUIREMENTS FOR THE GOVERNMENT SCHOLARSHIPS OF THE REPUBLIC OF TURKEY

GENERAL TERMS

If there is no special note in bilateral agreements; Turkish Government offers scholarships for Undergraduate and Graduate (Master/PhD) studies, as well as for Research and Turkish Language Summer Courses under the following conditions:

1- Scholarship notifications are announced through diplomatic channels. Candidates should apply to the authorized bodies of their own countries or to the Turkish Embassies/Consulates in their respective countries.

2- Candidate is selected by the related country or Republic of Turkey by the foreign representatives. Commission also selects one reserve candidate for a quota of five, two reserve candidates for a quota of six or more.

3- Documents of candidates for undergraduate, graduate and research scholarships should be submitted to the Turkish Ministry of National Education through diplomatic channels before 30th June and the documents of candidates for Turkish Language Summer Course scholarships before 30th April same way. Applications with missing documents or applications received later than the above mentioned dates will not be taken into account.

4- Turkish Ministry of National Education examines and evaluates the documents and selects the candidate/s. Selected candidates are invited through diplomatic channels.

5- Candidates of undergraduate and graduate scholarships should obtain a visa of Education and the candidates of research scholarships should obtain a visa of Research (holder of MoNE scholarship) from the Turkish Embassies/Consulates in their respective countries. Candidates of Turkish Language Summer Courses scholarships can attend a two-month TÖMER course with a tourist visa.

6- Candidates should be at the address on the invitation letter and bring the application letter and the originals of the diplomas with them. They should cover their own travel expenses.

7- Candidate registers to the educational institution that he/she is accepted and applies for the scholarship. With the official school registration and scholarship documents he/she applies for dorms and residence permit. Invitation letter includes necessary information.

8- Student should apply for the extension of residence permit one month prior to its deadline. Extension of the residence permit is under student’s responsibility.

9- Undergraduate and graduate students attend Turkish Courses at TÖMER for 1 year. In order to be enrolled to the universities, students should obtain a high level of TÖMER Diploma.

10- Before making their choices, applicants have to inquire about the universities’s conditions of acceptance and registration. Some universities require students to attend a one-year preparatory class and take a final exam. After completing the placement process for a university, requests for university changes are not regarded.

11- Applications for Medical Specialty studies are unacceptable. However, candidates can take exams for Medical Specialty studies on their own efforts.

12- Research programs are open to those who want to make a scientific research in his/her particular subject area in a university. Research duration is between 2-8 months.

13- Turkish Language Summer Courses are organized in Istanbul, Ankara, Izmir, Bursa, Kayseri, Antalya and Samsun. Applicants can choose three provinces among them. Courses are not organized in provinces that have no adequate number of applicants. Course dates are from July 1st to August 31st.

14- School fees, dorm fees and medical treatment expenditures (excluding long term illnesses, serious surgical operations, prosthesis, jaw orthopaedics, orthodontics and teeth prosthesis) are paid by the Turkish Government.

15- Monthly payment for graduate studies, research or Turkish Language Summer Course is TL 220, and TL 195 for undergraduate studies. Travel expenses and cost of meals are to be covered by the student.

16- Academic year begins in September. Candidate invited has to register educational institution until 30th of October at the latest.

17- If a student cannot graduate in normal school time he/she is given maximum a 2 year extra time. If a student cannot graduate in that extra time, his/her scholarship will be cancelled.

18- It is assumed that the student accepts the conditions of the educational institution and the conditions of the hostel and the conditions of the scholarship that takes place in this document.

II) ELIGIBILITY FOR SCHOLARSHIPS

  • Applicants should not be a citizen of the Republic of Turkey or hold a dual nationality (Turkish and any other country’s nationality).
  • Undergraduate candidates should have a good level of a high school graduation degree. The high school which was graduated from should be equivalent to the high schools in Turkey. Candidates should not have suspended education more than 2 years after graduation and not be older than 25 years on the date of application.
  • Candidates for graduate studies (Master/PhD) should be a graduate of a 4-year university and not be older than 40 years on the date of application.
  • Research candidates should be a graduate of a 4-year university and have a good level of Turkish, English or French.
  • Candidates for the Turkish Language Summer Courses should be a university student or a graduate student.
  • Candidates should not be infected with a contagious disease (HIV, Hepatitis-C and etc) or should not have a disease preventing his/her education in Turkey.

III) DOCUMENTS REQUIRED

Bachelors Degree Applicants

  • Scholarship Application Form (should be filled out legibly and presented with a passport-size photo attached)
  • Two photocopies of diploma (the original diploma should be brought to Turkey if accepted to the scholarship program)
  • Two photocopies of the transcript
  • Health report
  • One passport-size photograph
  • Photocopy of the page in passport that carry your photograph and any other pages that are filled in or stamped officially.
  • TÖMER diploma (if there is)
  • Documents numbered 2, 3 and 4 shall either be in English or Turkish or French. Documents issued in another language should be translated into one of these three languages.
  • Photocopies and translations of documents shall be validated by overseas Embassies/Consulates of the Republic of Turkey.

Masters/ Doctors Degree Applicants

  • Two photocopies of Scholarship Application Form (each copies should be filled out legibly and be presented with a passport-size photo attached)
  • Two photocopies of diploma (the original diploma should be brought to Turkey if accepted to the scholarship program)
  • Two photocopies of the transcript
  • Two photocopies of Curriculum Vitae
  • Two Letters of Recommendation (from two Professors)
  • Health report
  • One passport-size photograph
  • Photocopy of the page in passport that carry your photograph and any other pages that are filled in or stamped officially.
  • TÖMER diploma (if there is)
  • Documents numbered 2, 3, 4, 5 and 6 shall either be in English or Turkish or French. Documents issued in another language should be translated into one of these three languages.
  • Photocopies and translations of documents shall be validated by overseas Embassies/Consulates of the Republic of Turkey.

Research Scholarship Applicants

  • Four photocopies of Scholarship Application Form (each copies should be filled out legibly and be presented with a passport-size photo attached)
  • Two photocopies of diploma (the original diploma should be brought to Turkey if accepted to the scholarship program)
  • Two photocopies of the transcript
  • Two photocopies of Curriculum Vitae
  • Two Letters of Recommendation (from two Professors)
  • Two photocopies of research proposal (should be related with the planned research)
  • Health report
  • One passport-size photograph
  • Photocopy of the page in passport that carry your photograph and any other pages that are filled in or stamped officially.
  • TÖMER diploma (if there is)
  • Documents numbered 2, 3, 4, 5 and 6 shall either be in English or Turkish or French. Documents issued in another language should be translated into one of these three languages.
  • Photocopies and translations of documents shall be validated by the overseas Embassies/ Consulates of the Republic of Turkey.

Turkish Language Summer Courses Applicants

  • Scholarship Application Form (should be filled out legibly and be presented with a passport-size photo attached)
  • Photocopy of diploma (the original diploma should be brought to Turkey if accepted to the scholarship program)
  • Health report
  • One passport-size photograph
  • Photocopy of the page in passport that carry your photograph and any other pages that are filled in or stamped officially.
  • Documents numbered 2 and 3 shall either be in English or Turkish or French. Documents issued in another language should be translated into one of these three languages.
  • Photocopies and translations of documents shall be validated by the overseas Embassies/ Consulates of the Republic of Turkey.

Untuk informasi lebih jelasnya bisa dapatkan dari:

Gaygisiz Annabagshiyev (Gaday) :+6283865082544 (sms),email: sadawalker@live.com

Adiwena Yusuf Nugraha : 085643964966

Terimakasih


Formulir bisa diunduh di sini :

http://www.ziddu.com/download/18937809/2011formaplicationEn-Fr-Tr.doc.html

http://www.ziddu.com/download/18937797/FORMULIRPENDAFTARANBEASISWA.docx.html

Sunday, 29 January 2012

Peran dan Tanggung Jawab Sosial Mahasiswa


Anisse Alami
Mahasiswa FKIP Pendidikan Ekonomi UNS

“...Aku ingin mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah the happy selected view yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri pada perjuangan bangsanya...” ( Soe Hok Gie)
Sejarah tak henti-hentinya menceritakan kepada kita tentang kisah-kisah kepahlawanan para pemuda dan mahasiswa. Setiap kebangkitan sebuah pemikiran dan kejayaan selalu terdapat peran pemuda dibaliknya dan pemudalah yang menjadi rahasia kekuatannya. Presiden pertama RI sekaligus tokoh nasional pernah mengatakan “berikan kepadaku seratus orang tua akan kugoncangkan Indonesia, dan berikan kepadaku sepuluh pemuda saja akan kugoncangkan dunia”. Ini merupakan pernyataan pemberanaran mengenai urgensi peran pemuda pada kejayaan sebuah bangsa. Melalui pernyataan ini kita juga menemukan bahwa masa depan sebuah bangsa dan nasib umat berada di tangan keberanian para pemuda. Hal ini sesuai dengan pernyataan para tokoh “ pemuda saat ini adalah pemimpin hari esok.”
Mahasiswa sebagai simbol dari pemuda memiliki corak istimewa yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Mahasiswa merupakan lapisan masyarakat yang memiliki jajaran stratifikasi sosial khusus yang selalu menjadi bahan perbincangan yang menarik dan tak kan pernah selesai untuk dibahas. Setiap kali masyarakat membicarakan menganai transformasi sosial secara sadar atau tidak selalu mengarah pada kehidupan dinamika mahasiswa sehingga sejarah merekam setiap perubahan yang mengarah pada perbaikan di belahan dunia manapun selalu terdapat peran mahasiswa yang senantiasa menorehkan tinta emas sejarah perjuangannya. Coba kita lihat di Mesir. Pada tanggal 9 Pebruari 1946 ribuan mahasiswa mengadakan demonstrasi besar-besaran menuntut istana negara memutuskan negosiasi dengan Inggris karena telah banyak merugikan negara tersebut. Kita juga tentu masih ingat aksi penggulingan rezim Hoesni Mubarrak yang terjadi baru saja terjadi berawal dari para mahasiswanya yang sudah terlalu gerah dengan sikap pemimpinnya sendiri. Di China, pada tanggal 4 Juni 1989 aksi damai mahasiswa dijawab dengan tembakan senjata dan gilasan kendaraan lapis baja. Ribuan mahasiswa tewas dalam peristiwa monumental ini. Fenomena pergerakan mahasiswa di China yang sangat monumental ini menjadi inspirasi dinamika gerakan mahasiswa lain di banyak negara. Kobaran panji-panji kemenangan mahasiswa juga terjadi di Amerika, Spanyol, Hungaria, Yunani, Prancis, Amerika Latin, Jepang, Aljazair, Sudan, Korea Selatan, Turki dan tentu saja negeri kita tercinta, Indonesia. Tidak berlebihan jika kemudian mahasiswa mendapat gelar kehormatan dari masyarakat sebagai agent of change, iron stock, social control, wakil rakyat yang sesungguhnya, dan sebagainya.
Sejalan dengan identitas mahasiswa, ada peran-peran dan tanggung jawab sebagai konsekuensi logis yang disandang mahasiswa. Salah satunya adalah peran dan tanggung jawab sosial mahasiswa. Mahasiswa yang sehari-harinya berkutat dengan kehidupan kampus tidak sepantasnya menjadi elemen masyarakat yang individualis karena di luar kampus ada jutaan rakyat yang menanti karya-karya mereka. Mahasiswa tidak boleh menjadi entitas teraleniasi dari rakyat, hidup di manara gading yang jauh dari rakyat karena sebenanya ia juga bagian dari rakyat itu sendiri. Ia dituntut untuk dapat peka dalam melihat, mendengar, mengetahui, dan merasakan apa yang dirasakan masyarakat di tengah krisis multidimensional seperti sekarang ini. Seperti yang telah saya kemukakan di atas, mahasiswa memiliki strata yang istimewa. Maslow menggambarkan bahwa mahasiswa memiliki posisi ideal di masyarakat. Ia bisa dekat dengan grass root (masyarakat bawah) dan karena jaringan dan intelektual yang dimilikinya mahasiswa bisa dekat dengan kaum elitis (pemerintah). Posisi yang ideal ini dapat dimanfaatkan sebagi jembatan antara kedua elemen di atas. Ini artinya mahasiswa memiliki kesempatan untuk melakukan social control terhadap kebijakan-kebijakan yang dihasilkan kaum elitis. Tidak dapat dielakkan bahwa seringkali kebijakan-kebijakan yang dihasilkan kaum elitis adalah kebijakan yang tidak bijak sehingga berbenturan dengan kebutuhan masyarakat dan tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Social control yang dapat dilakukan mahasiswa tidak hanya melalui aksi turun ke jalan. Ia dapat melakukan advokasi, diskusi yang kemudian hasilnya disampaikan kepada kaum elitis dalam audiensi atau menulis hasilnya di koran, dan sebagainya. Tidak hanya itu, ia juga dapat memberi bantuan moriil dan materi kepada siapa pun yang membutuhkan. Sebagai contoh penggalangan dana untuk korban bencana, mengadakan bakti sosial, berbagi ilmu kepada masyarakat dalam dusun binaan, dan masih banyak lagi.
Secara keseluruhan, tidak semua mahasiswa dapat melakukan semua peran dan tanggung jawab sosial di atas. Hal itu dikarenakan setiap mahasiswa memiliki karakteristik yang berbeda. Setidaknya terdapat tiga tipe karakter mahasiswa.
1. Mahasiswa pasivis : mahasiswa yang memiliki tipe ini hanya menyibukkan diri dalam kesenangannya sendiri. Tidak peduli terhadap nilai akademis dan kondisi sosial disekitarnya. Hasilnya ia akan menjadi mahasiwa yang hedonis, prakmatis, dan apatis. Kita pasti sering melihat mahasiswa bertipe ini karena memang jumlahnya lebih banyak dibanding dengan tipe mahasiswa lain.
2. Mahasiswa akademis : mahasiswa bertipe ini hanya menyibukkan diri untuk kuliah, memperbagus nilai-nilainya, dan baginya parameter keberhasilan dilihat dari nilai IPK, lulus cepat, kemudian bekerja. Mereka biasanya kurang memiliki kepedulian terhadap kondisi sosial di lingkungannya. Hasilnya setelah lulus nanti ia akan kalah dengan kerasnya realitas lingkungan karena di saat kuliah ia sangat minim bersentuhan dengan masyarakat.
3. Mahasiswa aktivis : mahasiswa bertipe ini di masa kuliah tidak suka diperbudak dengan nilai-nilai mata kuliah dan predikat cumlaude. Ia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungannya dan menjadikan organisasi mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, atau organisasi eksternal lainnya sebagai alat penyalur kepeduliannya tanpa melupakan konsekuensi logis mereka ketika menyandang gelar mahasiswa yaitu kuliah.
Dari ketiga tipe di atas, ternyata menurut Pakar pendidikan yang juga Guru Besar Ilmu Pendidikan Moral Universitas Negeri Semarang, Prof. Masrukhi jumlah mahasiswa yang memiliki tipe pasifis sebanyak 90%. Ini tentu mencengangkan, ternyata sebagian mahasiswa memilih waktu mudanya untuk kehidupan glamour dan bersenang-senang. Sedangkan jumlah mahasiswa akademis dan aktivis tidak sampai 10%. Sudah jelas mahasiswa yang mampu mengemban amanah tanggung jawab sosial yang diberikan rakyat adalah mahasiwa yang berjumlah sangat sedikit itu, mahasiswa aktivis. Hal ini dikarenakan mahasiswa aktivis tidak memposisiskan diri sebagai entitas egois atas gelar mahasiswa yang disandangnya yang ingin dilayani orang tua dan rakyat, akan tetapi ia dapat memadukan antara kepentingan dirinya sebagai aksentuasi amanah dari orang tuanya dengan realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Meskipun terkadang sulit untuk dijalani, tetapi berbahagialah wahai aktivis sejati karena menjadi bagian yang terpilih dan sedikit. Teruslah mengobarkan panji-panji semangat untuk menorehkan tinta emas sejarah gemilang kejayaan negeri ini.

Monday, 31 January 2011

Ketidakadilan di dalam Kampus

Tulisan ini BUKAN fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama atau pelaku itu adalah sebuah kesengajaan.


Sekali lagi saya melihat adanya sebuah ketidakadilan yang terjadi di lingkungan kampus yang terjadi baru-baru ini. Saya yakin tak banyak yang tahu soal ini, karena memang ini asal beritanya tak terblow up ditambah masalah itupun hanya bermula dai satu orang yang merasa sebagai korban.ya, korban dari ketidakadilan kampus.
Indra Kusumah mengatakan,"Seseorang yang menyandang gelar sebagai mahasisiwa akan menemuai empat konsekuensi, yaitu konsekuensi akademik, konsekuensi organisasi, konsekuensi sosial, dan konsekuensi politik." Seorang mahasiswa tidak bisa dikatakan handal hanya karena IPK nya selalu cumlaude atau di atas rata-rata tanpa melibatkan diri dalam sebuah organisasi yang dengan itu dia bisa bermanfaat bagi orang lain atau tidak memiliki kepekaan sosial (biasanya menjangkiti mahasiswa yang terbentuk dari pola hidup yang hedonis,individualis, dan matrealistis) dan politik. Mahasiswa yang mampu menyeimbangkan dirinya untuk itu tadi, maka berhak menyandang gelar Mawapres. Dalam waktu dekat, FKIP UNS akan mengadakan pemilihan Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) yang sasarannya adalah masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu mahasiswa yang akademiknya bagus dan aktif dalam kegiatan organisasi. LSP FKIP, sebagi UKM yang bergerak dalam kegiatan keilmiahan mengadakan "Sekolah Mawapres" yang memfasilitasi para mahasiswa yang ingin mendaftarkan mawapres agar lebih siap melangkah ke tahap-tahap seleksinya. Saya melihat ada banyak wajah-wajah lama yang biasa kutemui dalam acara perlombaan mengikuti acara ini. Mereka yang unggul akademiknya dan aktif dalam banyak organisasi. SubhanaAllah. Meski begitu, saya rasa masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui bahwa sebentar lagi FKIP akan mengadakan pemilihan mawapres karena minimnya informasi yang diberikan FKIP.
Kemarin saya mendengar cerita dari teman yang mengajukan diri untuk mengikuti seleksi mawapres di tingkat prodi(program studi). Ketika dia menemui PA-nya untuk mengajukan diri, dia mendapat jawaban yang mengejutkan karena ternyata dari BKK-nya telah menunjuk seseorang untuk mewakili BKK-nya tersebut menjadi mawapres tingkat BKK(Bidang Keahlian Khusus, 1 tingkat lebih rendah dari prodi). "Kasus" ini kemudian terdengar sampai Pak Amir selaku PD 3 dan entah bagaiaman kemuadian tema saya tadi ditelpon oleh PA-nya untuk mengumpulkan berkas-berkas pengajuan diri sebagai mawapres dan diwawancarai. Saya pikir Pak Amir telah melakukan sesuatu hingga BKK tersebut setidaknya merubah sedikit keputusannya. Saya katakan sedikit karena besoknya teman saya tadi ditelpon PA-nya lagi dan mengatakan bahwa teman saya tadi tidak dapat lolos karena dia tidak begitu aktif di prodi meski IPK mereka tak berbeda jauh. Yang menjadi kebingungan kami adalah bahwa dalam seleksi seharusnya tidak ada penilaian apakah dia aktif di prodi atau tidak. Kebingunagan kami tak berhenti sampai di situ saja, karya tulis yang seharusnya menjadi penilaian malah sama sekali tidak ditanyakan. Dosen yang mewawancarainya saja tak tahu apa saja yang termasuk organisasi eksternal karena saat teman saya menyebutkan nama organisasi eksternalnya malah dosen itu menyebutkan nama-nama organisasi eksternal yang sebenarnya itu adalah UKM-UKM di fakultas. Payah.
Saya rasa dipanggilnya teman saya ini hanya sebagai formalitas karena mungkin tidak enak ketahuan Pak Amir,toh nyatanya teman saya tetap tidak lolos. Saya menganggap ini sebgai sebuah ketidakadilan kerena seharusnya informasi terkait adanya penyeleksian ini diberikan kepada mahaiswa bukan malah main tunjuk sendiri. Padahal kalau dihitung sebenarnya masih ada banyak mahasiswa yang sebenarnya berhak mengikuti seleksi ini dan mungkin saja lolos. Terlepas apakah mahasiswa itu mau mendaftarkan diri atau tidak seharusnya BKK tersebut menginformasikan kepada mahasiswa sebelumnya. Apalagi ini adalah sebuah kompetisi positif yang akan membawa nama FKIP dan tentunya ada "uang jajan" bagi mahasiswa yang menang walau baru lolos ditingkat prodi.
Cerita dari teman saya tadi yang bermula hanya dari cerita biasa kemudian berkembang menjadi kekecewaan karena dia merasa diperlakukan tidak adil. Saya pun memahami perasaanya dan saya pikir tidak hanya dia yang diperlakukan tidak adil, tetapi juga seluruh mahasiswa yang seharusnya berhak tahu tentang ini. Entah dari Prodi mana atau jurusan mana. Dia merasa kesal sekali, tetapi tak berani mengungkapkannya di depan dosen-dosennya.
Jika dosen selalu meminta mahasiswanya belajar, maka dosen pun seharusnya juga belajar. Belajar untuk bersikap terbuka dan adil untuk kebaikan kita bersama.

Sunday, 31 May 2009

"Go B The Winner!"

Sebentar lagi UAS di UNS.Kita harus mempersiapkan ini dengan baik karena ini adalah awal dari masa depan kita.Belajar yang rajin disertai doa yang tulus,insya4wi kita akan berhasil.Tapi ingat,bahwa apa yang kita inginkan tak selamanya terjadi.Bisa saja kita menginginkan mendapat IP yang lebih baik dari kemarin,tapi ternyata 4wi berkehendak lain.IP kita ternyata lebih buruk dari yang kita duga.Jangan sedih,karena 4wi telah memilihkan yang terbaik untuk kita dan sesungguhnya ada hikmah di setiap kejadian.Cobalah mengambil hikmah di balik kegagalanmu.Jika kamu dapat sabar menghadapinya,dan tidak putus asa untuk terus berusaha,maka sesungguhnya kamu telah menjadi seorang pemenang,the winner.Confusius pernah berkata,"Kemenangan besar bukanlah karena kita tidak pernah jatuh,melainkan karena kita bangkit setiap kali kita jatuh."So,persiapkanlah dirimu sekarang juga!Go B The Winner!!
By:Anisse Alami